Pengawasan wilayah udara bagi Negara kepulauan seperti Indonesia merupakan hal yang sangat penting artinya. Kawasan udara merupakan wilayah terluas bagi Negara kepulauan sebesar Indonesia ini.

Saat ini pengwasan wilayah udara territorial nasional dilaksankan oleh sebuah Komando Pertahanan khusus yang disebut sebagai Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) yang operasional berada dibawah Markas Besar TNI.  Karena wilayah operasi merupakan wilayah Udara maka Komando ini dikomandani oleh seorang Perwira Tinggi Angkatan Udara dan pembinaannya juga berada dibawah TNI Angkatan Udara.

Pembagian pengawasan pertahanan dilaksanakan oleh beberapa unit Radar Pertahanan Udara (Radar Hanud) yang ditempatkan pada Pos Sektor Pertahanan Udara (Posek).  Dengan keberadaan gelar radar hanud yang ada saat ini masih banyak wilayah udara yang tidak terkover oleh sapuan jangkauan radar dan berarti dalam keadaan kosong.  Wilayah yang tidak terkover ini sejatinya akan diisi oleh pesawat-pesawat patroli, baik pesawat patroli maritime (MPA) maupun pesawat pengintai seperti Boing B-737 yang dioperasikan oleh TNI-AU.

SPONSOR





Hal inipun masih belum dapat memenuhi kebutuhan ideal yang seharusnya seperti yang disaratkan dalam TOP/DSPP TNI.  Banyak kendala yang dihadapi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.  Selain mahalnya sebuah radar Hanud, untuk pesawat patroli juga memerlukan dana yang tidak sedikit, walaupun misalkan pesawat versi Patroli Maritim (MPA) dipesan dari industri local seperti PT. Dirgantara Indonesia.

Untuk kegiatan Pertahanan udara nasional selain diperlukan radar Hanud, pesawat patroli juga diperlukan pesawat pemburu yang berfungsi sebagai RODEO (a general fighter sweep over occupied territory) sehingga gelar pertahanan udara akan menjadi efektif.  Operasi pertahanan udara juga besar manfaatnya dalam memelihara kedaulatan perairan nasional, dimana pesawat patroli maritime dapat memberikan masukan kepada satuan tugas unsure laut.  Pesawat patroli jenis peringatan dini (Airborne Early Warning) sangat diperlukan.

Sekali lagi dukungan dana yang dialokasikan oleh pemerintah tidaklah memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, terlebh lagi dalam keadaan ekonomi yang sedang dihadapi oleh Negara pada saat ini, belum lagi factor-faktor kebocoran anggaran.

Dilain sisi, kerugian pemerintah yang timbul sebagai akibat kegiatan pencurian kekayaan perairan nasional dapat mencapai nilai yang tidak terhingga.

CN-235 MP Persuader.  Pesawat ini dikembangkan oleh pihak EADS CASA dan PT. Dirgantara Indonesia dengan jenis dan bentuk misi yang berbeda.  Terakhir ini pesawat jenis CN-235MP juga dipesan oleh Negara semenanjung Arab. CN-235MP merupakan salah satu pesawat patroli maritime yang ideal.  Sudah dioperasikan oleh banyak Negara, terutama yang
diproduksi oleh EADS CASA.

Patroli dan Penempur.  Pesawat patroli maritime yang dapat dikatan sudah berusia lanjut adalah jenis P3C Orion.  Namun kemampuan pesawat ini masih terus ditingkatkan.  Terakhir ini pihak Angkatan Laut Amerika Serikat menerima versi terbaru dari P3C Orion yang dilengkapi dengan radar pengintai multi-misi keluaran Raytheon jenis AN/APS-137. Pesawat
ini juga diperuntukkan untuk melakukan peperangan terhadap kapal selam dan dipersenjatai dengan system senjata rudal Harpoon.

Sedangkan pihak Cina juga tidak ketinggalan dengan meluncurkan pesawat pengintai udara Y-8J yang dikembangkan dari pesawat transport turboprop Shaanxi Y-8C (merupakan copy dari pesawat buatan Rusia An-12 Cub).

PENANGKAL KERAWANAN PERAIRAN.  Pesawat patroli maritime sangat dibutuhkan bagi Negara kepulauan seperti Indonesia yang memiliki banyaknya celah laut (sea lane) yang dilayari oleh kapal-kapal internasional.  Keamanan selat Malaka menjadi
topik kerawanan perairan dan sempat menjadi polemik karena akan diturunkannya kekuatan asing dikawasan tersebut.

Kehadiran pesawat patroli maritim dengan dukungan kapal-kapal patrolo perairan menjadi suatu harapan yang ideal dalam pengamanan perairan yurisdiksi narional terutyama dalam memelihara kemandirian disektor pertahanan.

Beberapa jenis pesawat Patroli.

  • B-737 AEW&C Wedgetail Airborne Early Warning and Control Aircraft. (AS)
  • B-767 AWACS Airborne Warining and Control System (Jepang)
  • A-50 Mainstay Airborne Early Warning and Control System (Rusia)
  • ABL YAL Airborne Laser (AS)
  • ASTOR Sentinel R.1 Airborne Stand-off Radar (Inggris)
  • ATL3 Atlantique Maritime Patrol Aircraft (Perancis)
  • C-212-400 Transporter and Surveillance Aircraft (Spanyol)
  • CN-235MP/MPA Maritime Patrol Aircraft (Spanyol/Indonesia)
  • E-2C Hawkeye Airborne Early Warning Aircraft (AS)
  • E-3 AWACS Airborne Warning and Control Systems (AS)
  • EA-6B Prowler Electronic Warfare Aircraft (AS)
  • EMB-145 Erieye Airborne Early Warning and Control Aircraft (Brazil)
  • JSTARS Joint Surveillance and Target Attack Radar System (AS)
  • Mineseeker Mine Detection System (Inggris)
  • Nimrod MRA4 maritime Reconnaissance Aircraft (Inggris)
  • P-3C Orion Maritime Patrol and Anti-Submarine Warfare Aircraft (AS)
  • S100B Argus Airborne Early Warning and Control Aircraft (Swedia)
  • U-2 High Altitude Reconnaissance Aircraft/Dragon Lady (AS)
  • Y-8J Skymaster Airborne Surveillance Aircraft (Cina)