ImageGue sebagai orang awam politik sering bertanya dalam hati, kenapa buruh berdemo? Untuk apa? Terus terang gue kurang ngikuti koran atau TV.

Gue denger-denger dikit aja dari temen-temen yang heboh supaya hari ini, Senin 1 Mei 2006 tidak melewati daerah Sudirman s/d Istana Negara karena takut rusuh.

Kenapa takut rusuh? Ya karena kita hidup di Indonesia!


Cari apa saja di AliExpress.Com


Negara yang sebagian besar rakyatnya lebih senang berbicara ketimbang mendengar. Lebih senang minta dituruti ketimbang menuruti.

Nggak percaya? Hehehe.. liat aja gue. Gue nggak ngerti masalah buruh aja lebih memilih berbicara apa kata hati gue ketimbang mengetahui lebih jauh tentang apa yang mereka inginkan.

Menurut gue, demo buruh itu cuma akal-akalan aja. Akal-akalan sebagian orang pinter yang membodohi buruh untuk berdemo untuk kepentingan tertentu. Kepentingan apa? ?Mbuh!

Tanya ken? apa (seperti iklan rokok di televisi)

demoburuh

Demo buruh menurut gue lebih banyak ruginya ketimbang untungnya. Siapa yang diuntungkan? Buruh?? (ah masaaaaa???)

Setahu gue (or at least yang gue rasakan), pada saat demo, minimum ada macet, roda ekonomi terhambat, belum kemungkinan rusuh, perusakan, dll. Yang termahal justru hilangnya rasa aman (siapa sih yg bisa menjamin keamanan kalau ada massa kalau segitu banyaknya?)

Lalu, apa mereka sadar kalau mereka secara langsung tidak langsung turut menyumbang pada proses hilangnya rasa aman tersebut?

Pasti enggaklah! Urusan yang didemokan itu upah kok.. yang notabene nyambung dengan urusan perut. Kalo udah urusan perut, siapa yang nggak nekad?

Kembali ke urusan tuntutan, apa iya kalo mereka demo tuntutannya bisa dituruti?
Lalu apa benar kalau tuntutan mereka dituruti menjadi keputusan yang terbaik?

Logika gue, upah itu kembali kepada pekerjaannya. Bukan soal standarisasi. Terpisah dari cukup atau tidak cukup, besar atau kecil.

Selain itu, upah juga terkait dengan kondisi sosio-ekonomi secara makro.

Yang gue pikir begini. Kalau buruh demo minta kenaikan upah. Lalu pemerintah menuruti. Trus pengusaha dibebankan biaya upah yang tinggi. Kan baliknya ke kita juga? Harga produk jadi tinggi juga. Kalau sudah harga tinggi, turun juga daya saing produk tersebut. Lalu produk tidak laku, perusahaan rugi, trus buruh di PHK.

Yang lain, ketika perusahaan diwajibkan menaikan upah buruh, perusahaan (yg mungkin pelit/atau modal kurang) akan berhitung ulang. Lalu dia bandingkan dengan tempat lain. Lalu dia ketemu China atau Vietnam yang lebih rendah upah buruhnya. Lalu lebih aman dari Indonesia. Trus.. ditutuplah perusahaannya. Dia pindah ke negara lain. Sementara buruhnya kemana?

Sebelum berdemo, sebaiknya buruh juga tahu. Bahwa tenaga kerja (termasuk buruh) adalah faktor ekonomi. Kalau tenaga kerja berlimpah, otomatis harga (upah) juga tidak bersaing. Menurut gue, itu hukum ekonomi. Nggak bisa dilawan.

Kalau nggak percaya, coba liat kenapa China atau negara lain ada yang upah buruhnya lebih rendah.

Mau bilang hidup susah?
Kalau buruh aja susah menghidupi (let?s say) 5 anggota keluarganya, bagaimana pengusaha menghidupi ratusan atau ribuan buruhnya?

Jadi menurut gue, upah bukan yang utama.

Saat ini, survive (atau bertahan hiduplah) yang utama. Pengusaha, buruh, dan semua bertahan hidup. Hingga perekonomian membaik. Itulah saatnya menuntut kenaikan upah.

Itu menurut gue! Seperti juga pendapat yang lain, pendapat gue bisa salah. Nggak penting bener salahnya. Karena menurut gue, banyak orang pinter yang memikirkannya.

Marilah mencoba mendengar.