Ada yang menyedihkan ketika bencana alam kembali melanda negara kita tercinta ini.

Di saat saudara-saudara kita mengalami bencana. Mungkin kita sendiri kurang ber 'empati' dengan segala kesulitan, kesedihan, ketakutan, kehilangan atau beragam perasaan yang dialami oleh saudara-saudara kita.

Berbeda dengan bencana tsunami di Mentawai, banjir bandang di Wasior, Papua, letusan Gunung Merapi (Merapi Erupt) 2010 kali ini memperoleh sorotan lebih banyak baik di mata pemerintah atau di mata kita sendiri.


Cari apa saja di AliExpress.Com

(bahkan disinipun gw lebih bicara soal merapi!!)

Mungkin karena Merapi berada lebih dekat dengan kita, mungkin karena Merapi lebih dekat dengan akses informasi, mungkin karena Merapi lebih banyak memiliki makna..

Atau mungkin karena kita hanya egois terhadap ancaman yang mungkin menimpa kita?

Ketika banjir bandang melanda Wasior, pemberitaan dan liputan bisa dikatakan biasa saja. Wajar saja, propinsi yang berada di ujung paling timur Indonesia ini dapat dikatakan jauh dari 'pusat' Indonesia.

Ketika bencana tsunami melanda Mentawai, kurang lebih sama saja. Alasan yang mungkin diterima adalah kepulauan terpencil tersebut juga dapat dikatakan 'jauh' dari pusat Indonesia.

Tetapi ketika Merapi mengamuk, liputan mendalam dapat kita lihat, dengar atau kita baca di televisi, radio, koran atau internet ini sendiri.

Apakah hanya karena itu? Ataukah juga hanya karena kita juga tidak merasa terancam?

Yang mengherankan, berbeda dengan Mentawai atau Wasior. Ketika Merapi meletus, Blackberry Messenger (BM) menjadi ramai dengan broadcast messagenya.

Atau..  telpon seluler menjadi ramai dengan SMS-nya.

Ada yang positif, mengajak untuk berdoa bersama atau berpartisipasi membantu korban bencana, ada yang egois sibuk mengajak menyelamatkan diri sendiri, atau ada juga yang kebangetan seperti isu-isu bohong tentang bencana susulan, dll.

Yang cukup mengganggu gw pribadi, adalah beberapa broadcast message tentang debu Merapi..

Cukup banyak broadcast message atau sederhananya forward-an berita yang gw terima, yang menurut gw egois sekali.

  • Ada broadcast message soal debu merapi sudah mencapai Tasik.. kemudian berikutnya sudah mencapai Bandung, Bogor, dan akhirnya Jakarta.. dll..
  • Ada broadcast message soal debu merapi yang berbahaya bagi tubuh, dan menyarankan untuk segera melengkapi dengan masker secepatnya.. (dll, dgn variasi tempat membeli, dll.)
  • Ada broadcast message soal debu merapi yang berbahaya juga untuk mobil kita, mulai dari membuat cat tergores hingga merusak sistim penyaring udara (air filter) mobil kita, dll.
  • dll

Dan banyak lagi..

Belum lagi broadcast picture yang menertawakan (secara tidak langsung) penjaga spiritual gunung merapi di kebudayaan Jawa, Mbah Marijan yang meninggal dunia dalam posisi bersujud karena awan panas (wedus gembel) dibecandai dengan gambar seperti foto di sebelah kiri.

Ada yang orang yang mengirimkan patung pasir wanita wanita telanjang yang tertelungkup seperti terbakar dan diberi judul Mbak Mariza, tetangga Mbah Marijan.

Kebangetan menurut gw..

Mungkin itu memang hanya bercanda. Tetapi menurut gw lucu itu juga tergantung siapa yang menerimanya dan bagaimana cara pandang penerimanya.

  • Apakah pantas menertawakan kematian orang dengan mencandainya dengan gambar yang kurang senonoh?
  • Apakah pantas bercanda dalam kesusahan atau derita saudara-saudara kita?

Gambar serupa juga gw terima dalam gambar wanita telanjang, tertidur di batang pohon, dan diberi judul korban tsunami Mentawai yang selamat. Atau gambar yang sama juga beredar dengan judul korban banjir, sesaat setelah Jakarta mengalami kebanjiran kemarin.

Lalu soal broadcast message.

Mungkin isi broadcast message tersebut tidak salah. Mungkin isi broadcast message itu juga benar.

Yang disayangkan, semua itu HANYA berbicara tentang kita...

Gw cuma menyayangkan. Tidak menyalahkan.

Prihatin saja dengan kita sendiri, atau mungkin gw sendiri aja kali ya. Yang hanya mau memikirkan diri sendiri saja.

  • Yang hanya peduli pada dampak debu merapi, karena takut mencapai tempat kita tinggal..
  • Yang hanya peduli pada dampak debu merapi, karena takut mengganggu kesehatan kita..
  • Yang hanya peduli pada dampak debu merapi, karena takut mengganggu aktifitas keseharian kita..
  • Yang hanya peduli pada dampak debu merapi, karena takut merusak harta kita..
  • dll... dll.. dll..

Marilah berfikir tentang MEREKA, korban bencana..

Derita mereka, luka mereka, sakit mereka, kehilangan mereka, kepedihan mereka, kesusahan mereka..

ps: Sejuta terima kasih, hormat dan salut kepada TIM SAR, Tim TNI/Polri, Palang Merah dan Tim Relawan lain yang tetap membantu di daerah bencana walaupun bahaya senantiasa mengintai.