Kendaraan Taktis Militer merupakan suatu sarana pendukung daya gerak yang mutlak dimiliki oleh kesatuan militer. Kendaraan Taktis (Rantis) merupakan wanaha pendukung transportasi personil maupun peralatan. Disebut taktis karena kegunaannya sebagai pendukung kegiatan operasi militer.

Truk Marinir (image: Kaskus)

Oleh karenanya rantis memiliki karakteristik yang spesifik, khusus dan dituangkan dalam suatu persyaratan spesifikasi tersendiri, berbeda dengan kendaraan administrasi (ranmin) yang spesifikasinya hampir sama dengan kendaraan yang digunakan oleh kalangan non- militer.

rantis


Cari apa saja di AliExpress.Com


Rantis memiliki persyaratan minimum diantaranya, mampu melakukan gerak operasi disegala medan termasuk cross-country, dengan semua sumbu roda gerak-all-wheel drive (4×4, 6×6, dst).  Memiliki daya muat (payload) tertentu, dilengkapi dengan kait penarik (towing eye), serta winch.  Untuk standar Rantis dapat dimulai dari kapasitas (payload) 0,5 ton, 1,5 ton, 2,5 ton dan seterusnya.

Truk Perkasa (image: defence talk)

Karena memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan kendaraan angkut umum atau ranmin, pada umumnya Rantis ini memiliki harga jual yang sangat tinggi.  Tetapi apabila dibandingkan dengan usia pakai, maka harga tersebut sesungguhnya cukup ekonomis.

Industri di Indonesia saat ini masih belum ada yang dapat membuat/memproduksi Rantis secara masal.  Sebelum masa Krisis Moneter, grup Texmaco pernah memproduksi Rantis dengan lisensi dari Eropa yang diberi nama PERKASA, namun kini produksi tersebut terhenti.

Truk Perkasa (image: Seraya Motor)

Kebutuhan Rantis dalam jajaran TNI sangatlah tinggi, misalkan saja dalam satu Batalyon Infantri sesuai dengan standar normative (TOP/DSPP - Tabel Organisasi Personel/Daftar Skala Personil-Peralatan) diperlukan 32 unit Truk Rantis kapasitas 2,5 ton, maka akan diperlukan jumlah Rantis yang sangat banyak.

Kebutuhan kedepan antara lain untuk memenuhi standar normatif baik sebagai pengganti asset lama yang sudah tua atau yang yang sudah tidak dapat digunakan lagi serta pemenuhan kebutuhan baru.

Truk AD Jerman MAN 5T (image: Militaryphotos)

Untuk membeli asset baru diperlukan dukungan anggaran yang sangat tinggi, misalkan saja harga Rantis kapasitas 2,5 ton buatan Eropa harga perbuahnya dapat mencapai lebih dari 100.000 Euro, dapat dibayangkan apabila dibeli 100 unit saja sudah berapa devisa Negara yang harus disediakan.  Maka tidaklah mengherankan apabila saat ini dalam jajaran TNI terdapat berbagai jenis/merek Rantis.

Upaya Terobosan

Mengingat tingkat kebutuhan yang ada serta kesediaan anggaran yang tersedia, Pemerintah dalam hal ini Departemen Pertahanan tengah mengupayakan pemberdayaan Industri Strategis Dalam Negeri untuk mampu menyokong kebutuhan TNI.

Salah satu upaya yang ditempuh adalah melalui kegiatan Round Table discussion pada awal Januari 2005 di Dephan (Departemen Pertahanan), dimana pada pertemuan yang melibatkan berbagai unsur pemerintah tersebut sepakat untuk mendorong Industri Strategis Nasional untuk dapat secara bertahap memenuhi kebutuhan dasar TNI, sehingga lambat laun akan mengurangi ketergantungan pemenuhan kebutuhan dari pasokan luar negeri.

Departemen Pertahanan sendiri tidak diam begitu saja, tetapi juga melakukan upaya antara lain dengan melakukan kegiatan rancang bangun Rantis kapasitas 2,5  ton yang juga melibatkan pihak swasta nasional.

Dalam kegiatan rancang bangun Rantis ini diperhitungkan dengan seksama kebutuhan operasional dilapangan (Operational Requirements) untuk mendapatkan spesifikasi teknis yang dikehendaki (Technical Requirements).

Mengingat fungsi Rantis tidak saja untuk mengangkut/menarik peralatan, tetapi juga sebagai sarana transportasi manusia/personil, maka suspensi menjadi salah satu factor penting selain mesin penggerak dan kerangka kendaraan.

Pada kendaraan prototype ini digunakan system suspensi yang disebut sebagai double wishbone spring seperti yang  digunakan pada Ranlapba Bushmaster.  Sedangkan kerangka kendaraan (chassis), mesin dan kabin pengemudi menggunakan truk Perkasa.  Perakitan kendaraan dilakukan di fasilitas produksi PT. Texmaco di Subang, Jawa Barat.

Produksi prototype Rantis ini telah melakukan pengujian perdana dengan uji-lapangan terbatas.  Sebaiknya selanjutnya Rantis tersebut diserahkan kepada pihak Penelitian dan Pengambangan (Litbang) TNI untuk diuji-coba serta mendapatkan sertifikasi penilaian.

Apakah Cikal-Bakal Rantis ini nantinya akan digunakan oleh kalangan TNI, tentunya hal tersebut akan bergantung kepada para pengambil keputusan di jajaran TNI dan Departemen Pertahanan.