(Liputan Majalah Trust, 24 Des 2006)

Permainan airsoft menjadi hobi baru bagi kalangan berduit. Peminatnya kebanyakan para pengagum dunia militer.

(Liputan: Fahmi Imanullah, Andrianto Soekarnen, Cristian Rahadiansyah, dan Abdul Basyit)


Cari apa saja di AliExpress.Com


Satu regu pasukan bersenjata lengkap mengendap memasuki wilayah musuh. Tiap orang menyandang aneka jenis senjata serbu macam Heckler and Koch MP5, AK-47, FNC, Steyr, bahkan juga senapan mesin ringan jenis baru M60.

Tidak lupa, di pinggang mereka juga ada sepucuk pistol aneka jenis—Berreta, Colts, dan Glocks. Tubuh mereka pun dilindungi rompi antipeluru, peralatan komunikasi antarpasukan, dan tidak ketinggalan helm plus pelindung mata.

Mereka tidak menyadari bahwa gerakan mereka rupanya telah diketahui lawan. Sebelum regu itu mendapatkan posisi yang ideal, seorang anggota pasukan musuh yang sedari tadi mengintai gerakan mereka segera mengontak komandannya.

”He’s coming, he’s coming,” infonya. Tiba-tiba, Blaar!, ledakan keras terdengar. Sedetik kemudian kontak tembak pun terjadi.

Meniru adegan Blackhawk Down (Sept, 2004)

Adu senjata antarpasukan terlatih itu berlangsung sekitar 15 menit. Ratusan peluru pun bermuntahan. Masing-masing berusaha mendapatkan sasarannya.

Selain adu tembak, kedua pasukan itu juga adu strategi. Komandan pasukan penyerang sibuk memberi komando kepada anak buahnya untuk maju atau bertahan. Dia tidak menyangka kedatangannya diketahui pasukan musuh.

Tiba-tiba sebutir peluru menghunjam tubuhnya. Dia pun berteriak sambil menjatuhkan badannya ke tanah yang agak basah karena gerimis yang mulai turun. ”Hit, hit!” teriaknya keras, agar musuh tidak menembaknya lagi.

Tiba-tiba bunyi peluit terdengar. Seluruh pasukan berhenti menembak. ”Perang diulang, perang diulang lagi dari awal,” kata seorang pria yang bertugas sebagai wasit. Kedua pasukan pun keluar dari posisi masing-masing dan kembali ke posisi awal.

Permainan sengaja dihentikan dan diulang karena ada pasukan yang menembak dari balik pagar. Padahal, berdasarkan kesepakatan, dilarang menembak dari luar arena yang sudah ditentukan. Tak lama kemudian, dar-der-dor terdengar lagi, perang-perangan dimulai lagi.

Code 4 Team shooting untuk Sigma Webteller (Jan 2004)

Begitulah suasana permainan perang-perangan yang dibuat semirip mungkin dengan situasi perang yang sebenarnya. Para pemeran serdadu itu menggunakan perlengkapan, senjata, medan pertempuran, serta strategi menyerang dan bertahan seolah dalam perang sungguhan, kecuali senjata yang mereka gunakan.

Meski sangat mirip dengan senjata sungguhan—baik bentuk maupun ukurannya—senjata itu tidak bisa diisi peluru betulan.

Sebagai gantinya, mereka menggunakan peluru bulat yang terbuat dari plastik. Itulah sebabnya perang jenis ini memerlukan wasit, dan wasit bisa menghentikan pertempuran sewaktu-waktu.

Sudah tentu tak ada yang tewas karena perang; serdadu yang tertembak bisa berdiri kembali dengan segar-bugar.

Inilah yang disebut permainan Airsoft Wargames, berkembang di Jepang sejak 10 tahun silam. Sedangkan senjata permainan ini berumur lebih tua lagi: dari tahun 1886.

Pada abad ke-19 itu, Clarence Hamilton—seorang penemu asal Plymouth, Amerika Serikat—menawarkan sebuah mainan mirip pistol betulan dengan peluru bola timah berukuran kecil dan pelontar berupa udara yang dimampatkan, kepada sebuah pabrik pembuat penggilingan.

Mulanya, senjata mainan yang dinamakan BB Gun itu (BB merupakan singkatan dari ball bearing) dijadikan bonus yang diberikan kepada para petani yang membeli penggilingan, hadiah bagi anak-anak para petani itu. Ternyata kemudian, permintaan senjata mainan ini kian hari kian banyak. Akhirnya, pabrik itu berhenti memproduksi dan menjual penggilingan, lalu beralih menjadi perusahaan pembuat senjata dengan nama Daisy Manufacturing Company, Inc.

Indonesia Airsoft Camp 2003

BB Gun segera menjadi tren di kalangan anak muda Amerika, tapi mencemaskan bagi para orang tua. Banyak orang tua melarang anak-anak mereka memiliki BB Gun. Alasannya, meskipun hanya mainan, ada juga yang sampai terluka karena senjata itu. Mungkin itu sebabnya BB Gun tak berkembang sampai pada tahun 1970-an.

Pada tahun1970-an itu, muncullah yang dinamakan senjata airsoft, pengembangan dari BB Gun. Senjata airsoft dibuat untuk meredam kekhawatiran para orang tua sambil tetap memenuhi hasrat anak-anak yang ingin merasa menjadi tentara. Peluru timah pun diganti peluru plastik. Kemudian, teknologi pelontar diganti dengan teknologi gas yang dimampatkan (mirip pada senjata dalam permainan paintball).

Meski asal-muasal senjata airsoft dari Amerika, permainan ini marak di Jepang. Berbeda dengan di Amerika yang para airsofter-nya para remaja, penggemar airsoft di Negeri Sakura umumnya orang dewasa. Orang pun berteori bahwa itulah cara orang Jepang berkompensasi atas kekalahan mereka dalam Perang Dunia II. Sebagai negara yang kalah perang, Jepang dilarang memproduksi senjata. Juga, warga Jepang dilarang memiliki senjata api.

Swedish Lapplands Uniform (Code 4 Team Official Uniform 2003)

Untuk memenuhi permintaan yang cukup tinggi, bermunculanlah industri rumah tangga pembuat senjata airsoft. Di antara industri rumah tangga itu, yang terkenal yakni Asahi, Falcon Toy Corp., Maurushin, Maruzen, dan Toytec.

Semakin lama, senjata airsoft makin mirip aslinya, dan sejumlah kelemahan pun bisa dipecahkan. Misalnya, sampai akhir 1980-an, senjata mainan itu dirasa kurang praktis karena kompresi gas yang ada pada senjata itu tidak praktis.

Seorang pemain harus membawa banyak tabung gas agar senjata bisa digunakan dengan baik. Selain itu, daya pampatan gasnya juga kurang andal melontarkan peluru dalam jarak jauh, dan jalannya peluru sering tidak akurat.

Pada awal 1990-an, keluhan para serdadu pura-pura itu mendapat solusi dengan kemunculan auto-electric guns (AEG). Pelontar gas diganti dengan pelontar motor listrik yang mendapat energi dari baterai. Teknologi ini dirasa lebih praktis meski tak bisa digunakan ketika hujan.

Sejak saat itulah boleh dikata permainan airsoft mulai marak, terutama di Jepang dan Hong Kong, diikuti negara-negara Eropa, Amerika, dan akhirnya sampai juga di Indonesia.

Permainan airsoft ini pada dasarnya memang ditujukan bagi mereka yang memiliki hobi dan menyenangi semua hal yang berbau militer. Mereka pun mendapat sambutan yang baik dari pihak militer di masing-masing negara. Selain pihak militer (sebenarnya) meminjamkan sarana untuk permainan airsoft, tak jarang pula mereka meminjamkan senjata sesungguhnya kepada para airsofter.

Di Indonesia, khususnya di Jakarta, organisasi para pecandu airsoft yang memiliki anggota cukup besar adalah Indonesian Airsoft Gun and Wargames Enthusiast Club atau yang biasa disebut dengan Code4 Team. Istilah Code4 sendiri berasal dari istilah militer yang berarti Mission Accomplished yang artinya misi telah diselesaikan.

Organisasi yang didirikan pada tahun 2001 ini bisa disebut sebagai pionir dalam pembentukan wadah bagi para penggemar permainan dengan menggunakan senjata aspal alias senjata asli tapi palsu itu.

Irwan H. Nuswanto, pendiri Code 4 Wargame Club

”Pada dasarnya, anggota kami adalah calon tentara yang gagal, ha-ha,-ha,” ujar Irwan H. Nuswanto, pendiri sekaligus Ketua Code4, sambil tertawa. Kini, Code4 memiliki anggota 58 orang.

Mereka datang dari berbagai hobi, tapi punya kesamaan dalam hal menggemari apa pun yang berbau militer, misalnya ada yang kolektor senjata tiruan, atlet menembak, kolektor souvenir militer, pencinta alam, penggemar games militer di komputer.

”Semuanya bergabung di organisasi ini untuk mewujudkan obsesinya serealistis mungkin,” kata Irwan.

Layaknya organisasi militer, mereka pun memiliki 16 tingkat kepangkatan, dari prajurit sampai jenderal. Kepangkatan itu diberikan sesuai dengan tingkat kemampuan mereka.

Untuk seragam, mereka menggunakan seragam tempur yang dipergunakan oleh pasukan Ranger Kerajaan Swedia. ”Penggunaan seragam itu bukan karena sok-sokan.

Kami memang mengagumi tentara Swedia, dan kami melarang anggota Code4 menggunakan seragam TNI,” tutur Irwan pula. Alasannya? Selama TNI dianggap sesuatu yang punya hubungan emosional dengan TNI, pada seragam itu melekat kesejarahan yang mencitrakan perjuangan dengan segala konsekuensinya—kerja keras, pengorbanan, darah, dan air mata.

Namun, tak sebagaimana tentara betulan, di organisasi airsoft ini yang berpangkat rendah tidak perlu memberi salam hormat jika bertemu dengan mereka yang memiliki pangkat lebih tinggi. Selebihnya, berkaitan dengan senjata dan perang, yang terjadi dalam perkumpulan airsoft mirip di dunia militer sebenarnya, misalnya dalam hal memperlakukan airsoft gun. Dalam hal membersihkan dan meletakkan senjata, ketentuan yang ada di ketentaraan sebenarnya diberlakukan.

Seperti halnya di negara lain, Code4 juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan war games di sejumlah instalasi militer, misalnya di Pusat Pendidikan Paspampres di Lawang Gintung (Bogor), lokasi latihan Kopassus TNI-AD di Situ Lembang (Bandung), Lapangan Tembak Paskhas TNI-AU di Lanud Sulaiman (Bandung), Kawasan Pelatihan Marinir di Karang Pilang (Jawa Timur), serta di Pangkalan Brimob, Kelapa Dua, Depok (Jawa Barat).

Meskipun sudah dikatakan berkembang baik, hingga saat ini permainan airsoft masih belum memiliki sistem penilaian yang baku. Apalagi, saat ini masih belum ada cara yang pas untuk mengetahui secara pasti seorang peserta yang terkena tembakan.

Code 4 Wargame Club photo shoot untuk Majalah Angkasa

Satu-satunya cara yang saat ini dipergunakan untuk mengetahui seorang peserta terkena tembak adalah pengakuan dari si peserta. Caranya, ya peserta diminta jujur, bila terkena peluru plastik itu, peserta mesti segera berteriak: ”Hit!”. ”Tipe permainan ini memang sportif dan fun, peserta tidak perlu ngotot untuk menjadi pemenang,” ujar Irwan.

Sayang, permainan airsoft masih tergolong permainan mahal. Harga sebuah senjata airsoft tipe senapan serbu (rifles) paling murah Rp 4,5 juta. Sedangkan sebuah pistol (hand gun) dijual dengan harga terendah Rp 1 juta. Belum lagi perlengkapan lainnya: rompi, alat komunikasi, seragam, peluru, serta gas atau baterai untuk mengaktifkan senjata.

Kata orang, masa kanak-kanak tak pernah mati dalam diri kita. Airsoft game adalah salah satu buktinya. Dulu, kita bermain perang-perangan dengan senapan dari tangkai daun pisang atau sebilah bambu. Wajah pun dicoreng-moreng dengan arang, dan topi baju dibuat dari kertas koran. Kini, teknologi memungkinkan kita mengganti tangkai daun pisang dan bambu dengan senapan yang sangat mirip senjata sebenarnya.

Reff: Majalah Trust