Liputan Koran Republika (7 April 2004)

Di Indonesia penggemar mainan senjata replika cukup banyak. Mereka berusia antara 20 dan 60 tahun, mulai dari mahasiswa, profesional, hingga purnawirawan TNI.

Setidaknya sekali dalam masa kecilnya, seorang laki-laki pernah memainkan perang-perangan dengan teman-temannya.

SPONSOR





Senjata mainan dibidikkan ke arah ''lawan'' sambil bergaya bak pasukan mempertahankan negara atau wilayah tertentu. Atau, berakting menirukan tokoh tertentu yang memerangi penjahat. Permainan yang melatih kekompakan pada saat bocah itu enak dikenang ketika laki-laki menjadi dewasa.

irwan

Irwan H. Nuswanto, pendiri Code 4 Wargame Club

Rupanya banyak juga pria dewasa yang ingin mengulangi masa menyenangkan itu. Tentunya nuansa yang dihadirkan jauh berbeda dari saat masa kecil tadi. Seperti diakui Boy Aries, karyawan sebuah bank swasta ternama, yang memiliki hobi bermain perang-perangan sejak kecil.

''Dulu pistol mainannya berpeluru karet pada ujungnya. Sebelum menembak, karetnya diberi air ludah dulu supaya menempel,'' candanya sambil bergaya mempraktikkan kegemarannya itu. Raya Fahreza menuturkan, semasa kecil seorang anak selalu mempunyai fantasi beragam.

Saat bermain tembak-tembakan biasanya ada bocah yang ingin menjadi tentara, orang Indian, atau memerankan tokoh film. Setelah dewasa ia juga termasuk orang yang meneruskan kesenangan itu. Irwan H Nuswanto, yang juga berhobi perang-perangan saat kecil, menyalurkan kesenangannya dengan membeli senjata mainan dari luar negeri.

code4team

Tanpa disangka, senjata mainan tersebut diminati dan dibeli oleh rekannya. Ia membeli senjata mainan lagi dan dibeli lagi oleh rekannya. Begitu berulang-ulang. Senjata-senjata mainan yang dibelinya ludes diborong oleh rekan-rekannya.

Akhirnya pada penghujung 1999 Irwan memberanikan diri membuka toko yang menjual senjata mainan replika (airsoft gun) beserta atribut penunjang yang biasa dipakai kalangan militer seperti rompi, seragam, jaket, dan lainnya. Setelah sempat dua kali berpindah tempat, tahun lalu ia membuka kiosnya Airsoftland di Senayan Trade Center, Jakarta.

''Awalnya memang sempat takut karena harus ada ijin impor, ijin menjual, dan kepemilikan,'' katanya. Sesudah semuanya diurus ia dapat lebih tenang menjalankan bisnisnya. Senjata mainan replika tersebut secara fisik menyerupai senjata api yang biasa digunakan oleh pasukan khusus atau tentara pada umumnya. ''Dari segi ukuran besarnya sama dengan aslinya. Satu banding satu. Bedanya pada bahan dan peluru,''tuturnya.

code4teamhrt

Selektif
Meski hanya senjata mainan replika, toh Irwan tidak dapat sesuka hati menjualnya. Ia tetap selektif memilih pembeli. Hanya mereka yang berusia lebih dari 18 tahun, sehat jasmani dan rohani, serta bertanggung jawab atas senjata tersebut yang dapat membeli.

Selain itu, senjata ini tidak boleh terlihat di keramaian karena dikhawatirkan akan membuat orang panik. ''Kalau keluar rumah harus dimasukkan ke dalam tasnya. Pokoknya ini tidak boleh mencolok dilihat mata karena aturannya dari pihak berwajib begitu.

'' Menurutnya, hanya beberapa negara yang mengijinkan senjata mainan replika tersebut dijual. Seperti Thailand, Filipina, dan Indonesia. Sedangkan Singapura dan Malaysia melarang warganya memiliki senjata mainan demikian.

Seluruh produk mainan tersebut masih diimpor dari Jepang, Taiwan, atau Hong Kong. Di Indonesia penggemar senjata mainan replika ini cukup banyak. Mereka umumnya berusia antara 20 dan 60 tahun, datang dari beragam profesi. Mulai dari mahasiswa, profesional, hingga purnawirawan TNI yang terbagi dalam dua kelompok, yakni kolektor dan pemain.

Yang dimaksud kolektor adalah mereka yang memiliki beragam jenis senjata mainan yang disimpan di rumahnya. Sedangkan pemain adalah mereka yang gemar melakukan permainan perang-perangan di tempat terbuka, lengkap dengan atribut militer yang mereka miliki.

Mereka ini tergabung dalam kelompok yang disebut Code 4. Nama Code 4 diambil dari kode HT (handy talky) yang biasa dipakai anggota SWAT Amerika Serikat (AS) setelah mereka melakukan sebuah operasi. Saat ini jumlah anggota Code 4 Team (atau dahulu dinamakan Code 4 Wargame Club) yang dibentuk 27 Juli 2001 itu sekitar 100 orang namun yang aktif sekitar 70 orang.

Permainan Code 4 biasanya dilakukan saat akhir pekan di Tangerang atau kawasan Puncak Bogor karena lokasi di sana dianggap paling ideal. ''Biasanya yang main ini anak muda. Sementara kolektor jarang yang mau,'' kata Andrianto Wibowo yang juga turut mengelola Airsoftland.

Pada permainan tersebut beragam skenario bisa dilakukan. Mulai dari aksi penyerbuan markas musuh, pembebasan sandera, hingga yang lain-lain. Namun, mereka tidak pernah mengadakan permainan ini sebagai lomba karena akan menimbulkan persaingan dan rasa kurang enak di antara sesama anggota. ''Ini semata mencari fun, bukan lainnya.'' Selain Code 4 masih ada kelompok serupa yang berasal dari Yogyakarta dan Surabaya seperti, C4, SAT, Defcon 6, G Team, dan MAC.

Beberapa kelompok ada yang memodifikasi senjata mainannya agar kemampuan menembaknya maksimal. Tetapi, Code 4 memilih kelompoknya agar tetap mempertahankan kemampuan senjatanya seperti standar pabrik. hir Seragam Nazi Jerman, MP5, M4, dan MP16 Beragam jenis senjata mainan replika airsoft gun tampak terpajang rapi di salah satu sudut toko Airsoftland, di Senayan Trade Center, Jakarta . Sepintas penampilan senjata itu menyerupai aslinya, baik ukuran maupun beratnya. ''Beda bobotnya sekitar 80 persen dari aslinya,'' kata Irwan H. Nuswanto, pemilik toko tersebut.

Ia menjual beragam jenis senjata replika seperti senjata yang banyak digunakan tentara di berbagai negara. Mulai dari jenis postol, senjata serbu, pelontar granat, hingga senjata khusus sniper model G3. Semuanya mainan. Dari beragam jenis senjata mainan yang dijual itu jenis H&K MP5 keluaran Jerman dan keluarga M16 banyak digemari orang. Selain penampilannya yang modis, kedua jenis senjata ini sering dilihat di televisi atau adegan film. Versi senjata sesungguhnya digunakan pasukan elit di banyak negara, termasuk AS dan Indonesia.

Untuk keluarga M16, orang Indonesia lebih menyukai versi Colt M4A1 RIS atau M4 SR 16 dengan variasinya. ''Ini senjata sejuta umat,'' candanya. Senjata mainan itu seluruhnya masih impor dari Jepang, Taiwan, atau Hong Kong. Karena itu, harga yang dipatok cukup tinggi, mulai dari Rp 2,9 juta hingga puluhan juta rupiah per senjata tergantung perlengkapan yang diinginkan. Selain senjata mainan, Irwan juga melengkapi tokonya dengan aneka seragam militer asal AS, Swedia, Eropa Timur, hingga Nazi Jerman yang paling mahal.

''Harga seragam Nazi ini mahal, bisa mencapai puluhan juta rupiah. Tetapi, harus memesan dulu ke Jepang atau negara bekas poros Jerman dulu, bukan ke Eropa sebab sudah sulit mencarinya,'' katanya. Beberapa pembeli melengkapi senjata mainan miliknya dengan perlengkapan tambahan seperti senter, teropong malam, hingga peredam suara. Sehingga, penampilannya nyaris menyerupai senjata aslinya dan harganyapun lebih mahal.

''Kami ingin menyeleksi pembelinya supaya yang membeli adalah mereka yang sadar hukum,'' kata Irwan. Raya Fahreza, salah satu penggemar hobi ini, mengakui sebelum membeli senjata mainan tersebut ia sempat harus berfikir selama dua tahun. Namun, ia tampaknya tidak bisa membendung hasratnya untuk memuaskan hobinya semasa kecil. ''Saya hanya ingin seperti di film. Dan, di Code 4 memang seperti itu. Kita jadi kelihatan lucu-lucuan. Tidak ada yang serius kok,'' kata pemilik H&K MP5 ini.

http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=157613&kat_id=105&kat_id1=149