ImageBeberapa waktu lalu, pekerjaan ngebawa gue ke Bali.

Great!! lama banget gue nggak ke Bali! Sejak heboh bom disana, nyaris nggak kepikiran untuk ke Bali kemaren-kemaren.

Gue nggak mau mikirlah soal bom blah-blah-blah.. Kumaha engke!

SPONSOR





Ke Bali, ticket, hotel, makan, semua dibayarin kantor, kurang enak apa?

Hihihi..

Senin malem gue berangkat ke Bali. Mendarat disana, semua masih berasa biasa. Yah, as usual, kala menginjakan kaki di airport manapun. Perlakuan keamanan dari aparat, dll. biasa-biasa saja. Sampai di luar, rasanya begitu juga.

Kesan pertama, bersih! dan tidak crowded!

Kesan kedua? Sepiiiiiiiiiii...

bali-aman

Beda rasanya waktu dulu-dulu gue ke Bali. Airport sibuk, Denpasar sibuk, Kuta kayak pasar! (makanya gue benci Kuta). Enakan Nusa Dua yang lebih sepi dan nyaman.

Gue nginep di Hotel Harris, tepat sebelah Hotel Sahid, di kawasan Kuta. Hotel kelas menengahlah. Entah bintang 3 atau 4. It was my first time staying at Harris hotel.


Image

Liputan menyebalkannya gue tulis nanti disini juga..

Hotelnya terbilang nyaman. Modelnya modern minimalis, pegawai-pegawainya dengan pakaian warna pedes (oranye) menyambut ramah dan friendly. Abis, check in dan bebenah. Berasa deh atmosfir Kuta mulai menyergap. Aroma berlibur mulai menyengat! Sementara gue berpakaian kantor, berbekal notebook, dan tas kerja, tamu-tamu lain bercelana pendek, berkaus, dan bersandal!

Djancuk!

Salah nginep gue! Gue pikir, dengan milih hotel di kawasan Kuta bisa rada asyikan suasananya. Nggak berasa gawe gitu loch. Ternyata, justru ketentraman itu mengusik gue yang dateng karena urusan pekerjaan. Hiks! Blah-blah-blah urusan kantor nggak usah dicerita'in lah.. Bolak-balik ke kantor cabang dan ketemu client-client di Denpasar justru bikin gue makin merasakan perbedaan atmosfir Kuta.
ImageKuta is back! Pantai Kuta yang katanya sepi, gue liat dan gue rasakan cukup ramai di akhir Mei dan Awal Juni ini.

Bulan yang nyari belum jadi musim libur, sudah membuat Kuta lebih hidup, dari apa yang gue denger dari cerita orang yang bilang Kuta is death.

Kuta tetap ramai (atau sudah ramai lagi) ketimbang dulu-dulu sehabis teror bom disana.
Buruan ke Bali!!

Begitu pula tempat-tempat lainnya. Disela-sela pekerjaan, gue sempet makan ke Jimbaran, Nusa Dua, atau Bebek bengil segala. Walau semua terasa lebih sepi dari yang pernah gue rasa'in dulu sebelum teror bom (atau mungkin karena dulu gue kesana pas liburan yak??) tapi konklusinya tetep sama. Bali kembali bergeliat.

Secara umum, banyak toko terlihat melakukan close-out sale, diskon gede-gedean (even Billabong bikin diskon 80%), banyak ruko dijual, properti yang makin kusam ditinggal penghuninya, dan jalan yang selalu lancar (nyaris nggak ketemu macet disana) bisa jadi parameter, bisnis sedang lesu disana.
ImageImage
Walaupun begitu, hasil ngalor-ngidul sama supir travel, pegawai hotel, pelayan restoran, dll. bisa dibilang, keadaan mulai banyak berubah lagi sekarang. Bahkan. Gue sempet ngobrol sama orang Australia yang ketemu sama-sama nyari tempat smoking room. Terjemahan bebasnya, dia bilang Bali aman kok. Pemerintah dia aja yang terlalu parno mengeluarkan travel warning untuk seluruh wilayah Indonesia.

Dia ngerasa comfort jalan-jalan ke seluruh Indonesia. Doski cerita udah ke Bali, Makassar, Manado, Jakarta, Yogya, dll. Dia bilang, mungkin Jakarta yang bisa dikatakan tidak aman.

So? why would you wait?

Let's go to Bali...