Baru kemaren rasanya gw komplen soal forward message atau broadcast message yang sifatnya bohong, menipu atau hoax yang banyak gw terima seputar isu gempa, isu gempa merapi, isu banjir, atau sekedar percobaan penipuan.

Hari ini (8/11), Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Gatot S Dewa Broto menegaskan bahwa siapa saja yang menyebarkan kabar bohong (hoax) dapat diamcam hukuman hingga 6 (tahun) atau 1 Milyar rupiah.

Wah. Berita bagus nih..


Cari apa saja di AliExpress.Com

Gw termasuk eneg sama broadcast message yang suka di forward temen2 gw sendiri (yg selalu gw cela sebagai forwarder) yang isinya kadang tidak logis, atau mungkin meresahkan.

Berita-berita yang diforward tersebut biasanya berita yang kalau tidak di cek en ricek, atau tidak dilandasi pemahaman yang benar, bisa menimbulkan kepanikan.

smshoax

Hoax tidak saja berupa broadcast message, hoax juga bisa berupa email, sms, messenger atau bahkan foto atau gambar.

Gw salut dan berterima kasih buat Kominfo atas tanggapannya yang begitu cepat, sehingga urusan hoax ini tidak berlama-lama dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab, dengan meluncurkan aturan pengenai hoax itu sendiri.

Selengkapnya, silahkan baca berita yang gw ambil dari Detik.Com

Bagi Anda yang suka mengirimkan kabar bohong (hoax), atau bahkan cuma sekadar iseng mendistribusikan (forward), harap berhati-hati. Ancamannya tidak main-main, bisa kena pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar.

Demikian diingatkan Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Gatot S Dewa Broto. Pelaku penyebar hoax bisa terancam pasal 28 ayat 1 dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Di dalam pasal UU ITE ini disebutkan, setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.

"Jadi mulai sekarang, setiap orang harus berhati-hati dalam menyebarkan pesan
berantai lewat perangkat elektronik. Sekarang banyak SMS, ВВМ, maupun email, hoax yang berseliweran. Yang mem-forward, disadari atau tidak, juga bisa kena karena dianggap turut mendistribusikan kabar bohong," papar Gatot kepada detikINET, Senin (8/11/2010).

"Dengan kondisi berduka seperti sekarang ini, kami mengharapkan masyarakat jangan turut memperburuk suasana. Kalau mendapat pesan berantai yang sekiranya hoax, tolong jangan sembarang di-forward. Laporkan saja kepada polisi," imbaunya lebih lanjut.

Menurut penjelasan Gatot, pesan hoax harus dilaporkan ke pihak berwajib karena sudah masuk dalam delik hukum. Setelah laporan diproses oleh pihak kepolisian, baru kemudian polisi bisa melakukan penyidikan dengan bekerja sama bersama Kominfo dan segenap operator telekomunikasi.

Dia kemudian mencontohkan kasus SMS 'Kirim Mama Pulsa'. Dikatakan olehnya, penanganan kasus itu merupakan hasil kerjasama pelanggan yang mengadukan kepada polisi dan kemudian diproses oleh operator untuk membantu penyidikan. Contoh kasus tersebut juga sekaligus membuktikan bahwa pelaku bisa saja tertangkap meskipun setiap harinya ada ratusan juta SMS yang berseliweran.

"Nah itu sebabnya, tolong jangan sembarangan mem-forward kabar yang belum tentu benar atau hoax. Dalam kasus bencana Merapi, misalnya, kasihan sudah banyak korban. Jangan asal forward lagi, bisa memperkeruh suasana," tandas Gatot. ( rou / rns )

Sumber: Detik.Com